Free Image Hosting At ImageCows.NetIndustri musik kita pelan-pelan berubah, perubahan ini ditandai dengan merosotnya penjualan fisik (kaset dan CD). Kini muncul ternd baru yaitu trend digital mobile audio. Ini tetunya mebuat mayor label harus berfikir keras untuk bisa mensiasati merosotnya angka penjualan kaset dan CD. Harus diakui trend teknologi tidak bisa kita hindari. Tapi komplikasi industri musik kita yang didominasi oleh barang bajakan juga memberikan andil yang besar terhadap merosotnya penjualan fisik.

Bicara masalah bajakan, gue sempat berharap bila pemerintah ikut dalam memberantas pembajakan. Padahal dulu sempat, kalo barang bajakan tidak bisa dijual di Mal-Mal, kenyataannya sekarang tetap gampang didapat. Harapan lain muncul ketika Bapak Susilo Bambang Yudoyono (SBY) akhirnya berhasil merilis album ciptaannya yang dinyanyikan oleh artis-artis muda dan senior, hamper setiap hari di Metro TV muncul sepserti iklan layanan yang bunyinya kira-kira “hargai/selamatkan karya intelektual anak bangsa“ yang menurut gue sebenarnya iklan album Bapak SBY.

Pertanyaannya adalah apakah SBY tahu dan peduli bila album tersebut sudah ada bajakannya? Untuk sementara gue berpendapat, profesi SBY jelas-jelas bukan artis professional (masih sebatas menyalurkan hobi) dan income utama jelas bukan dari penjualan kaset dan CD, jadinya mungkin iklan di atas masih sebagai harapan, angan-angan atau apalah namanya yang masih dalam konteks ajakan tapi blum tindakan.

Untuk digital sendiri ada sisi menariknya, karena siapapun bisa merekam karyanya dan menjualnya melalui CP (Content Provider) dengan format Ring Back Tone (RBT). Dan pada akhirnya mungkin kita tidak bisa lagi membedakan artis sebagai profesi atau artis sebagai hobi, karena pada saatnya siapapun yang punya karya yang bagus dapat langsung menjualnya tanpa harus melalui label.

Teks : Ridho Hafiedz
Sumber : Loud Music Magazine (januari 2008)